Jumat, 28 Maret 2008

PUISI SAHABAT


Di kotak hati ini kusimpan gambarmu
Kau yang pernah mengisi hidupku
Dengan riang dan cekakak tawamu
Aku ingin engkau tahu
Walaupun dalam wujud engkau jauh
Namun dalam kotak hatiku
Hadirmu senantiasa menari dengan jenaka
Gambarmu dalam hidupku
Tidak ternilai harganya
Gambarmu senantiasa menemani aku
Hingga aku tidak merasa kesepian
Aku boleh bertemu dengan sejuta manusia
Tapi gambarmu dalam kotak hatiku cukup
Menemani aku melewati hari-hariku

Di pagi yang sunyi ini
Kubuka lagi kotak hatiku
Disitu kutemukan gambarmu
Dengan lincah menari
Membuat hatiku kembali gembira
Menjadikan jiwaku kembali tenang
Sungguh aku beruntung
Walau kini engkau jauh dariku
Gambarmu senantiasa menemani aku
Oleh karena itu
Di pagi yang sunyi ini
Kuutarakan kepadamu perasaanku
Terima kasih sudah menjadi
Seorang sahabat sejati!

Jumat, 21 Maret 2008

puisi kehidupan

MATA HATI

Berbicaralah pada hati dengan hati
hati hati jika berdusta
mata hati seperti dua mata kehidupan
kebenaran dan kenistaan
hatilah yang membedakannya
hatimu … hatiku
dan hati kitalah yang paling mengerti
kemana arah hati hendak berbicara

marsupilami

Sapa seh yang nggak kenal Marsupilami??????????

Rugi banget kalo nggak kenal....???!!!!!!!!

Kamis, 20 Maret 2008

resensi buku


Sajak Liris dan Lingkar Bayang Struktural Sejarah

Judul buku : Telah Dialamatkan Padamu, Sepilihan Sajak Nanang Suryadi
Penulis : Nanang Suryadi

Penerbit : Dewata Publishing
Cetakan : I, 2002

Tebal : 111 halaman.


Membaca karya seorang penyair tidak hanya perjuangan menembus rimba kata yang penuh dengan sulur simbol dan metafora, tapi juga menelusuri riwayat perjalanan seorang penyair dengan referensinya. Referensi wacana lisan dan tulisan yang tentu saja juga dipengaruhi oleh pengalaman empiris pribadi dari si penyair.
Nanang Suryadi, juga salah satu penyair yang muncul saat ini, tak luput dari persoalan referensi semacam itu. Strukturalisme sejarah kepenyairan suatu bangsa, negara, dan dunia tak akan berhenti, selalu ada garis-garis yang menghubungkan.
Gerbang perpuisian yang telah dibuka secara konsep oleh seorang Amir Hamzah bersama Pujangga Baru-nya dari pusaran kesusastraan Melayu, Chairil Anwar yang mendobrak tradisi dan mengadopsi puisi barat, Rendra yang melaju pada realitas sosial, Tardji yang mengolah kesadaran lama tentang mantra hingga gaya pecahan kata dengan konsep Posmo dari seorang Afrizal Malna. Ah, uniknya pernik perjuangan kepenyairan di Indonesia.
Karena itu, wajar saja, di tengah puluhan para penyair simbolik kebangsaan–belum lagi dihitung dengan keberadaan penyair dunia Octavio Paz dan Pablo Neruda–para penyair saat ini tak hanya berpuisi, tapi juga ditanyakan kebaruan konsep-konsepnya. ”Puisi-puisimu pasti bagus Nang. Tinggal mencari yang baru dalam sejarah sebuah karya,” ujar Maman S. Mahayana, seorang dosen dan pengamat sastra.
Tapi benarkah itu? Apakah penyair saat ini tak punya diksi dan konsep yang baru? Mengutip kalimat Maman, puisi Nanang jelas berkualitas. Hanya, bayang-bayang masa lalu seorang Sapardi Joko Damono, Sutardji Calzoum Bachri, barangkali juga Goenawan Mohamad atau Subagyo Sastrowardoyo masih menghantui.
Hanya sekarang yang jadi pertanyaan, sungguhkah publik telah meneliti karya para penyair saat ini. Nanang Suryadi hanyalah salah satu di antara mereka (tak perlu disebut karena begitu banyak saat ini).
Namun sudah seharusnya para pengamat dan pengkritik sastra memperhatian mereka secara cermat. Ataukah semua bayang-bayang itu telah sedemikian kukuhnya dalam jagat puisi Indonesia sehingga tak ada lagi celah untuk sebuah pembelaan pada kekukuhan tonggak puisi baru?
Termasuk buat seorang Nanang Suryadi yang jelas berbeda juga diksinya, penyataan ini hanya bisa dilontarkan oleh seorang pengamat puisi yang lama memperhatikan karya seorang penyair.
Nanang juga punya keunikan. Tinggal sekarang, pembelaannya adalah, hutan rimba kata apakah yang telah ditanamkan dan ditumbuh suburkan oleh seorang Nanang Suryadi dalam bukunya Telah Dialamatkan Padamu
Seperti pendapat penyair dan redaksi Ahmadun Yosi Herfanda tentang religiositas karya Nanang, ada celah lainnya yang kerap dimuntahkan penyair ini pada lirik-lirik baitnya. Kata-kata yang kesepian, namun senantiasa mengalir jernih untuk bersuara tentang cinta. Tak ada benturan yang membabi-buta, lihat saja pada sajaknya ini:
Sebagai cakrawala harapku, lengkung alis matamu/Binar mata, berkas bintang-bintang mencahaya, demikian rindu. (Yang Menyimpan Rindu, 13)

Juga pada larik puisi ini:
Bunga ditanganmu berapa warna,
dirangkai sebagai kenang,
kepada siapa keharuman disampaikan,
ah engkaulah bunga,
merangkai hidupmu sendiri,
merah putih ungu hitam,
engkaulah kenang itu (pada sajak Seorang Yang Merangkai Bunga, 39).
Adakah kesepian yang begitu tabah, menahan-nahan rindu sendiri untuk “hanya” dialirkan dalam bahasa yang sabar dan indah. Diksi yang tak merusak kebeningan air telaga kata. Tak perlu ada kalimat “mampuslah aku dalam kesepian”, Nanang berhasil mengemas kesunyian dan rasa ngelangutnya dalam keindahan.
Inilah perbedaannya. Nanang bukan seorang penyair yang di antara penyair sebelum, yang digandoli berbagai teori macam-macam tentang filsafat dan kesusastraan. Hitungan dalam rasa dan pikirannya hanyalah kalimat yang indah tentang puisi, termasuk cara pengucapan, patahan kalimat hingga keindahan kata.
Diperlukan suatu alasan, saat dia mencoba melihat dunia lain dari kacamata rasa dan pikirannya. Dengan cermat, nyatanya dia tetap mempertahankan kepiawaiannya berhitung bunyi dan ephoni. Tetap dengan tradisi seorang Nanang Suryadi:
Tapi bukan kelinci ajaib yang melompat ke lobang hitam atau topi/sulapan, dimana engkau dengan matnra: izukalizu tahi tahu tahi tahu/lonte bau di ubun ubun kluk!
Tapi nanti dulu, Nanang memang penyair yang suka iseng sendiri, mengutak-atik kekhasan diksi puisi penyair lain, untuk sengaja menyapa penyair lain. Bukan cuma Tardji–kalau puisi tadi dibilang bergaya Tardji–siapa saja penyair karibnya yang tak diisenginya dengan “meminjam” (bukan merebut) diksi dan metafora para penyair itu.
Tentu saja dia telah membubuhkan nama penyair itu. Bisa jadi, justru itulah gayanya. Dalam karyanya, dia mau berlelah lelah memperhatikan setiap simbol, diksi hingga rima atau loncatan bunyi.
Kembali pada suasana puitiknya, karya-karyanya rata-rata berisi cinta kesepian dari sesuatu yang masih jauh. Bisa rindu pada Tuhan, kepada ibu, atau kepada pasangan kodrati: seorang perempuan yang dicintai. Semua dihadapi dengan bijaksana, tak ada kalimat yang pecah, kesemuanya tetap terjaga.
Demikianlah, betapa dia mencoba berarif-arif ria dalam menghadapi tentang harga sebuah kesepian. Pada kata, semua rindunya di alamatkan. Lihat saja pada sepi yang menggigit di puisinya yang berjudul Jam Yang Menyerpih (hal.36) ini:
Sebagai harap yang pecah berderai, jarum jam menyerpih, luruh dari jemarimu, mungkin kan diingat lagi, sebuah ilusi, impian yang berloncatan

Sabtu, 08 Maret 2008

artikel pendidikan

Model evaluasi dengan cara memberi nilai dan membuat ranking membuat anak seperti dihukum.

Di dalam ruangan beralaskan karpet biru itu, Andini bercerita. Di depan teman-temannya dan Bu Tari, bocah perempuan berusia empat tahun itu berkisah tentang pengalamannya pagi itu. ''Bangun tidur, kuterus mandi,'' begitu Andini mengawali ceritanya.

Dengan bersemangat, Andini lantas menceritakan semua yang dilakukan dan dilihat sepanjang hari itu. Suasana makin meriah karena teman-temannya kerap menyela. ''Datang ke sini diantar siapa, Din?'' tanya Nano. ''Diantar Ayah,'' jawab Andini. Suasana berbeda terlihat di ruang lainnya. Puluhan anak lelaki dan perempuan bermain bersama. Mereka sibuk menata buah-buah imitasi di atas piring. Dengan rapi, mereka menata hingga mirip seperti hidangan yang siap santap di meja makan.

Anak-anak yang sedang asyik bercerita dan bercengkerama bersama itu tidak berada di sebuah arena bermain. Mereka sedang berada di sekolahnya. ''Memang begitulah suasananya. Kami belajar dengan senang, semuanya senang. Anak-anak merasa bermain meski sebenarnya itu adalah merupakan proses belajar mengajar,'' kata Bu Tari. Bu Tari, Bu Eno, dan Bu Budi adalah para tenaga pengajar di sebuah sekolah bernama Semai Benih Bangsa (SBB) yang terletak di Jalan Raya Bogor, Cimanggis, Depok.

Adalah Indonesia Heritage Foundation (IHF) yang mengembangkan dua lembaga pendidikan usia dini: Semai Benih Bangsa (SBB) dan Taman Kanak-kanak Karakter (TKK). Saat ini telah berkembang 400 TKK dan SBB di seluruh Indonesia. Keduanya menerapkan proses pembelajaran serupa, yaitu model pendidikan holistik berbasis karakter. Yang berbeda adalah aspek manajemen pengelolaannya. TKK ditujukan untuk anak keluarga mampu, sedangkan SBB difokuskan bagi anak dari keluarga miskin. ''Mereka tidak dipungut biaya sama sekali,'' jelas Direktur Eksekutif IHF, Ratna Megawangi, kepada Republika.

Pendekatan lewat pendidikan holistik berbasis karakter anak didik punya poin lebih tersendiri. Kata Ratna, pendekatan seperti ini bisa mengembangkan seluruh potensinya dan mampu berpikir alternatif. Sebab, model pendidikan semacam itu merupakan proses belajar yang menyenangkan, menantang, serta bisa membangun manusia secara utuh. Para siswa dapat berkembang secara bebas sesuai dengan potensi dirinya. ''Tujuan pendidikan model ini adalah membentuk pribadi anak yang cakap menghadapi tantangan dan cepat berubah dengan kesadaran spiritual yang tinggi,'' katanya.

Dengan pendekatan tersebut, istri Meneg BUMN Sofyan Djalil itu mengungkapkan, pendidikan agama bukan semata untuk memaksa anak menghafal pelajaran. Pendidikan agama itu hanya memberitahu soal akhlak, sehingga mengerti mana yang halal dan haram. Metodenya membangkitkan emosi anak untuk berbuat baik. ''Kalau berbuat kesalahan, itu suatu proses. Yang paling penting bagaimana mereka menyadari bila berbuat salah,'' ungkap Ratna.

Tidak dibentak
Anak-anak pun tampil menjadi sosok yang dihargai. Mereka tidak dibentak-bentak, tidak pula dibanding-bandingkan. Selama belajar, suasana dibuat menyenangkan, sehingga anak merasa betah dan tidak bosan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Untuk mendukung proses pembelajaran agar kondusif dan menyenangkan, setiap hari model dan materi belajar selalu berubah.

Kurikulum disusun agar siswa bisa berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran yang mengasyikkan. Anak didik bisa meningkatkan imajinasinya dengan cara berbagi dan bekerja sama serta mampu menghargai semua ragam profesi, perbedaan budaya, dan agama. Bagaimana peran guru?

Guru, kata Ratna, hanya mengarahkan, memfasilitasi, dan memotivasi anak didik. Guru diharapkan bisa memberikan kedamaian, santun, dan mampu berkomunikasi secara positif dan efektif. Untuk itu, kurikulumnya dirancang sesuai dengan tujuan, yakni mencakup semua aktivitas yang bisa mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial, estetika, dan aspek akademis.

Dengan proses pembelajaran semacam itu, menurut Ratna, siswa merasa bermain ketika belajar. Sebenarnya, hakikat permainan itu adalah membuat anak belajar. Anak dalam proses pembelajaran semacam itu tidak dipaksa belajar berhitung, membaca, atau menulis. Apalagi dinilai dan diranking.

Dalam mengevaluasi hasil pembelajaran, papar Ratna, tidak ada nominal penilaian bagi mereka. Bagi mereka, model evaluasi dengan cara memberi nilai dan membuat ranking, hukumnya haram. ''Sebab ini bisa membuat anak merasa dihukum,'' kata perempuan kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1958.

Anak-anak hanya diarahkan agar berkembang secara utuh. Untuk itu mereka dibiarkan belajar agar bisa merekam infomasi seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya. Informasi yang mereka peroleh itu juga didapat dari bermain. Informasi yang mereka peroleh bisa disaring dan dianalisis sendiri, sehingga daya nalarnya bisa berkembang dengan baik.

Jika kemampuan nalar anak berkembang dengan baik, maka mereka akan mampu membedakan mana yang baik dan menentukan sendiri mana yang buruk. Akhirnya, tidak akan ada lagi anak-anak yang merasa didikte, apalagi 'diperkosa'. Ratna mengungkapkan, anak-anak yang merasa dipaksa, akan kehilangan kepercayaan diri. Mereka selalu merasa rendah diri. Akibatnya, kreativitas mereka terbunuh, serta emosi dan kemampuan nalarnya bakal terganggu.

Di dalam ruang kelasnya, mata Andini berbinar. Wajahnya menampakkan kenyamanan berada di antara teman-teman dan guru yang menyenangkan. Kenyamanan serupa seperti berada di tengah keluarga yang hangat. Seperti kenyamanan berada di rumah.