Model evaluasi dengan cara memberi nilai dan membuat ranking membuat anak seperti dihukum.
Di dalam ruangan beralaskan karpet biru itu, Andini bercerita. Di depan teman-temannya dan Bu Tari, bocah perempuan berusia empat tahun itu berkisah tentang pengalamannya pagi itu. ''Bangun tidur, kuterus mandi,'' begitu Andini mengawali ceritanya.
Dengan bersemangat, Andini lantas menceritakan semua yang dilakukan dan dilihat sepanjang hari itu. Suasana makin meriah karena teman-temannya kerap menyela. ''Datang ke sini diantar siapa, Din?'' tanya Nano. ''Diantar Ayah,'' jawab Andini. Suasana berbeda terlihat di ruang lainnya. Puluhan anak lelaki dan perempuan bermain bersama. Mereka sibuk menata buah-buah imitasi di atas piring. Dengan rapi, mereka menata hingga mirip seperti hidangan yang siap santap di meja makan.
Anak-anak yang sedang asyik bercerita dan bercengkerama bersama itu tidak berada di sebuah arena bermain. Mereka sedang berada di sekolahnya. ''Memang begitulah suasananya. Kami belajar dengan senang, semuanya senang. Anak-anak merasa bermain meski sebenarnya itu adalah merupakan proses belajar mengajar,'' kata Bu Tari. Bu Tari, Bu Eno, dan Bu Budi adalah para tenaga pengajar di sebuah sekolah bernama Semai Benih Bangsa (SBB) yang terletak di Jalan Raya Bogor, Cimanggis, Depok.
Adalah Indonesia Heritage Foundation (IHF) yang mengembangkan dua lembaga pendidikan usia dini: Semai Benih Bangsa (SBB) dan Taman Kanak-kanak Karakter (TKK). Saat ini telah berkembang 400 TKK dan SBB di seluruh Indonesia. Keduanya menerapkan proses pembelajaran serupa, yaitu model pendidikan holistik berbasis karakter. Yang berbeda adalah aspek manajemen pengelolaannya. TKK ditujukan untuk anak keluarga mampu, sedangkan SBB difokuskan bagi anak dari keluarga miskin. ''Mereka tidak dipungut biaya sama sekali,'' jelas Direktur Eksekutif IHF, Ratna Megawangi, kepada Republika.
Pendekatan lewat pendidikan holistik berbasis karakter anak didik punya poin lebih tersendiri. Kata Ratna, pendekatan seperti ini bisa mengembangkan seluruh potensinya dan mampu berpikir alternatif. Sebab, model pendidikan semacam itu merupakan proses belajar yang menyenangkan, menantang, serta bisa membangun manusia secara utuh. Para siswa dapat berkembang secara bebas sesuai dengan potensi dirinya. ''Tujuan pendidikan model ini adalah membentuk pribadi anak yang cakap menghadapi tantangan dan cepat berubah dengan kesadaran spiritual yang tinggi,'' katanya.
Dengan pendekatan tersebut, istri Meneg BUMN Sofyan Djalil itu mengungkapkan, pendidikan agama bukan semata untuk memaksa anak menghafal pelajaran. Pendidikan agama itu hanya memberitahu soal akhlak, sehingga mengerti mana yang halal dan haram. Metodenya membangkitkan emosi anak untuk berbuat baik. ''Kalau berbuat kesalahan, itu suatu proses. Yang paling penting bagaimana mereka menyadari bila berbuat salah,'' ungkap Ratna.
Tidak dibentak
Anak-anak pun tampil menjadi sosok yang dihargai. Mereka tidak dibentak-bentak, tidak pula dibanding-bandingkan. Selama belajar, suasana dibuat menyenangkan, sehingga anak merasa betah dan tidak bosan dalam mengikuti proses belajar mengajar. Untuk mendukung proses pembelajaran agar kondusif dan menyenangkan, setiap hari model dan materi belajar selalu berubah.
Kurikulum disusun agar siswa bisa berpartisipasi secara aktif dalam pembelajaran yang mengasyikkan. Anak didik bisa meningkatkan imajinasinya dengan cara berbagi dan bekerja sama serta mampu menghargai semua ragam profesi, perbedaan budaya, dan agama. Bagaimana peran guru?
Guru, kata Ratna, hanya mengarahkan, memfasilitasi, dan memotivasi anak didik. Guru diharapkan bisa memberikan kedamaian, santun, dan mampu berkomunikasi secara positif dan efektif. Untuk itu, kurikulumnya dirancang sesuai dengan tujuan, yakni mencakup semua aktivitas yang bisa mengembangkan aspek fisik, emosi, sosial, estetika, dan aspek akademis.
Dengan proses pembelajaran semacam itu, menurut Ratna, siswa merasa bermain ketika belajar. Sebenarnya, hakikat permainan itu adalah membuat anak belajar. Anak dalam proses pembelajaran semacam itu tidak dipaksa belajar berhitung, membaca, atau menulis. Apalagi dinilai dan diranking.
Dalam mengevaluasi hasil pembelajaran, papar Ratna, tidak ada nominal penilaian bagi mereka. Bagi mereka, model evaluasi dengan cara memberi nilai dan membuat ranking, hukumnya haram. ''Sebab ini bisa membuat anak merasa dihukum,'' kata perempuan kelahiran Jakarta, 24 Agustus 1958.
Anak-anak hanya diarahkan agar berkembang secara utuh. Untuk itu mereka dibiarkan belajar agar bisa merekam infomasi seluas-luasnya dan sebanyak-banyaknya. Informasi yang mereka peroleh itu juga didapat dari bermain. Informasi yang mereka peroleh bisa disaring dan dianalisis sendiri, sehingga daya nalarnya bisa berkembang dengan baik.
Jika kemampuan nalar anak berkembang dengan baik, maka mereka akan mampu membedakan mana yang baik dan menentukan sendiri mana yang buruk. Akhirnya, tidak akan ada lagi anak-anak yang merasa didikte, apalagi 'diperkosa'. Ratna mengungkapkan, anak-anak yang merasa dipaksa, akan kehilangan kepercayaan diri. Mereka selalu merasa rendah diri. Akibatnya, kreativitas mereka terbunuh, serta emosi dan kemampuan nalarnya bakal terganggu.
Di dalam ruang kelasnya, mata Andini berbinar. Wajahnya menampakkan kenyamanan berada di antara teman-teman dan guru yang menyenangkan. Kenyamanan serupa seperti berada di tengah keluarga yang hangat. Seperti kenyamanan berada di rumah.