Selasa, 29 April 2008

TES UJIAN AKHIR SEKOLAH TIK MATERI WEBBLOG



Pergeseran paradigma dalam pranata pendidikan yang semula terpusat
menjadi desentralistis membawa konsekuensi dalam pengelolaan
pendidikan, khususnya di tingkat sekolah. Kebijakan tersebut dapat
dimaknai sebagai pemberian otonomi yang seluas-luasnya kepada sekolah
dalam mengelola sekolah, termasuk di dalamnya berinovasi dalam
pengembangan kurikulum dan model-model pembelajaran.

Otonomi yang luas itu, hendaknya diimbangi dengan perubahan yang
berorientasi kepada kinerja dan partisipasi secara menyeluruh dari
komponen pendidikan yang terkait. Kondisi ini gayut dengan perubahan
kurikulum yang sedang diluncurkan dewasa ini oleh pemerintah, yakni
kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP). Konsekuensi yang harus
ditanggung oleh sekolah adalah restrukturisasi dalam pengelolaan
sekolah (capacity building), profesionalisme guru, penyiapan
infrastruktur, kesiapan siswa dalam proses belajar dan iklim akademik
sekolah.

Kebijakan penerapan KTSP dan pemberian otonomi pendidikan juga
diharapkan melahirkan organisasi sekolah yang sehat serta terciptanya
daya saing sekolah. Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi
dan pembelajaran berbasis teknologi informasi yang sangat pesat,
hendaknya sekolah menyikapinya dengan seksama agar apa yang dicita-
citakan dalam perubahan paradigma pendidikan dapat segera terwujud.
Kecenderungan yang telah dikembangkan dalam pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi (TIK) dalam pembelajaran adalah program e-
learning.

Beragam istilah dan batasan telah dikemukakan oleh para ahli teknologi
informasi dan pakar pendidikan. Secara sederhana e-learning dapat
difahami sebagai suatu proses pembelajaran yang memanfaatkan teknologi
informasi berupa komputer yang dilengkapi dengan sarana telekomunikasi
(internet, intranet, ekstranet) dan multimedia (grafis, audio, video)
sebagai media utama dalam penyampaian materi dan interaksi antara
pengajar (guru/dosen) dan pembelajar (siswa/mahasiswa).

Model pembelajaran berbasis TIK dengan menggunakan e-learning
berakibat pada perubahan budaya belajar dalam kontek pembelajarannya.
Setidaknya ada empat komponen penting dalam membangun budaya belajar
dengan menggunakan model e-learning di sekolah. Pertama, siswa
dituntut secara mandiri dalam belajar dengan berbagai pendekatan yang
sesuai agar siswa mampu mengarahkan, memotivasi, mengatur dirinya
sendiri dalam pembelajaran. Kedua, guru mampu mengembangkan
pengetahuan dan ketrampilan, memfasilitasi dalam pembelajaran,
memahami belajar dan hal-hal yang dibutuhkan dalam pembelajaran.
Ketiga tersedianya infrastruktur yang memadai dan yang ke empat
administrator yang kreatif serta penyiapan infrastrukur dalam
memfasilitasi pembelejaran.

Permasalahan yang dihadapi sekolah saat ini adalah pada tingkat
kesiapan peserta belajar, guru, infrastruktur sekolah, pembiayaan,
efektifitas pembelajaran, sistem penyelenggaraan dan daya dukung
sekolah dalam menyelenggarakan pembelajaran berbasis TIK. Lalu, apakah
mungkin program e-learning dapat dilaksanakan di sekolah? Ini yang
menjadi esensi dari kebermaknaan e-learning di sekolah.

Menyiapkan program e-learning

Pengalaman menunjukan dalam menyiapkan program e-learning tidaklah
sesulit dalam bayangan kita, asalkan kita memiliki kemauan dan
komitmen yang kuat untuk menuju ke arah itu. Tanpa komitmen dan
dukungan secara teknis maka program e-learning di sekolah tidak
mungkin akan terealiasi. Ada tip tentang kunci sukses terealisasinya
program e-learning, sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh
(Bates, 2005) dalam journal of e-learning volume 5 tahun 2005, yakni
adanya perencanaan dan leadership yang terarah dengan mempertimbangkan
efektifitas dalam pembiayaan, integritas sistem teknologi serta
kemampuan guru dalam mengadapsi perubahan model pembelajaran yang baru
yang sudah barang tentu didukung kemampuan mencari bahan pembelajaran
melalui internet serta mempersiapkan budaya belajar bagi siswa.

Ada empat langkah dalam manajemen pengelolaan program e-learning yakni
pertama menentukan strategi yang jelas tentang target audience,
pembelajarannya, lokasi audience, ketersediannya infrastruktur, budget
dan pengembalian investasi yang tidak hanya berupa uang tunai. Kedua
menentukan peralatan misalnya hoste vs installed LMS dan Commercial or
OS-LMS, ketiga adalah adanya hubungan dengan perusahan yang
mengembangkan penelitian berkaitan dengan program e-learning yang
dikembangkan di sekolah. Ke empat menyiapkan bahan-bahan yang akan
dibutuhkan bersifat spesifik, usulan yang dapat diimplementasikan
serta menyiapkan short response time. Kesemuanya itu, hendaknya perlu
dipikirkan masak-masak dalam konteks investasi jangka panjang.

Membudayakan belajar berbasis TIK

Berkembangnya teknologi pembelajaran berbasis TIK mulai tahun 1995 an,
salah satu kendalanya adalah menyiapkan peserta didik dalam budaya
belajar berbasis teknologi informasi serta kurang trampilnya dalam
menggunakan perangkat komputer sebagai sarana belajar, serta masih
terbatasnya ahli dalam teknologi multimedia khususnya terkait dengan
model-model pembelajan. Untuk mempersiapkan budaya belajar berbasis
TIK adalah keterlibatan orang tua murid dan kultur masyarakat akan
teknologi serta dukungan dari lingkungan merupakan faktor yang tidak
bisa diabaikan. Pembentukan kominitas TIK sangat mendukung untuk
membudayakan anak didik dengan teknologi. Model ini telah dikembangkan
di Jepang tepatnya di Shuyukan High School dengan membentuk club yang
dinamai (Information Science Club), yakni sebagai wadah siswa untuk
bersinggungan dengan budaya teknologi.

Kompetensi guru dalam pembelajaran Ada tiga kompetensi dasar yang
harus dimiliki guru untuk menyelenggarakan model pembelajaran e-
learning. Pertama kemampuan untuk membuat desain instruksional
(instructional design) sesuai dengan kaedah-kaedah paedagogis yang
dituangkan dalam rencana pembelelajaran. Kedua, penguasaan TIK dalam
pembelajaran yakni pemanfaatan internet sebagai sumber pembelajaran
dalam rangka mendapatkan materi ajar yang up to date dan berkualitas
dan yang ketiga adalah penguasaan materi pembelajaran (subject metter)
sesuai dengan bidang keahlian yang dimiliki.

Langkah-langkah kongkrit yang harus dilalui oleh guru dalam
pengembangan bahan pembelajaran adalah mengidentifikasi bahan
pelajaran yang akan disajikan setiap pertemuan, menyusun kerangka
materi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan instruksional dan
pencapainnya sesuai dengan indikator-indikator yang telah ditetapkan.
Bahan tersebut selanjutnya dibuat tampilan yang menarik mungkin dalam
bentuk power point dengan didukung oleh gambar, video dan bahan
animasi lainnya agar siswa lebih tertarik dengan materi yang akan
dipelajari serta diberikan latihan-latihan sesuai dengan kaedah-kaedah
evaluasi pembelajaran sekaligus sebagai bahan evaluasi kemajuan siswa.
Bahan pengayaan (additional matter) hendaknya diberikan melalui link
ke situs-situs sumber belajar yang ada di internet agar siswa mudah
mendapatkannya. Setelah bahan tersebut selesai maka secara teknis guru
tinggal meng-upload ke situs e-learning yang telah dibuat.

Dalam penetapan kualitas pembelejaran dengan menggunakan model e-
learning telah dikembangkan oleh lembaga Qualitative Standards
Scholarship Assessed: An Evaluation of the Professoriate yang
dikembangkan oleh Glassick, Huber and Maeroff, (2005), dengan
indikator-indikator instrumen yang telah dikembangkan meliputi:
kejelasan tujuan pembelajaran, persiapan bahan pembelajaran yang
cukup, penyiapan metoda belajar yang sesuai, menghasilkan hasil
pembelajaran yang signifikan positif, efektifitas dalam
mempresentasikan bahan pelajaran serta umpan balik yang kritis dari
peserta didik.

Beberapa hal yang perlu dicermati dalam menyelenggarakan program e-
learning / digital classroom adalah guru menggunakan internet dan
email untuk berinteraksi dengan siswa untuk mengukur kemajuan belajar
siswa, siswa mampu mengatur waktu belajar, dan pengaturan efektifitas
pemanfaatan internet dalam ruang multi media.

Dengan mencermati perkembangan teknologi informasi dalam dunia
pendidikan dan beberapa komponen penting yang perlu disiapkan serta
pengalaman penulis dalam mengembangkan program e-learning maka program
e-learning di sekolah bukanlah suatu hayalan belaka bahkan sesegera
mungkin untuk diwujudkan.

Tidak ada komentar: